Monthly Archive for January, 2005

Christian Bautista - The Way You Look At Me

[Intro:]
No one ever saw me like you do
All the things that I could add up to
I never knew just what a smile was worth
But your eyes say everything without a single word

[Chorus:]
‘Cause there’s somethin’ in the way you look at me
It’s as if my heart knows you’re the missing piece
You made me believe that there’s nothing in this world I can’t be
I never know what you see
But there’s somethin’ in the way you look at me

If I could freeze some moment in my mind
Be the second that you touch your lips to mine
I’d like to stop the clock, make time stand still
‘Cause baby, this is just the way I always wanna feel

[Chorus:]
‘Cause there’s somethin’ in the way you look at me
It’s as if my heart knows you’re the missing piece
You made me believe that there’s nothing in this world I can’t be
I never know what you see
But there’s somethin’ in the way you look at me

[Bridge:]
I dont know how or why I feel different in your eyes
All I know is it happens everytime

[Chorus:]
‘Cause there’s somethin’ in the way you look at me
It’s as if my heart knows you’re the missing piece
You made me believe that there’s nothing in this world I can’t be
I never know what you see
But there’s somethin’ in the way you look at me

The way you look at me

Email Threading

Sebetulnya ini basbang, tapi karena di berbagai milis yang saya ikuti masih banyak thread-hijacker rasanya tidak ada salahnya saya tulis masalah ini. Siapa tahu ada yang jadi lebih santun bermilis setelah membaca post ini.

Setiap email mempunyai header Message-ID yang unik (seperti halnya sidik jari), tidak (atau belum?) ada dua email di dunia ini yang memiliki Message-ID yang sama. Message-ID ini digunakan sebagai acuan apabila email tersebut dibalas oleh seseorang. Karena tidak ada dua email yang memiliki Message-ID yang sama, tentunya Message-ID untuk email balasan berbeda. Dan acuan terhadap Message-ID email yang asli disimpan di dalam header In-Reply-To. Contohnya seperti berikut: Continue reading ‘Email Threading’

Tahun Baru dan Simpati Palsu

Malam tahun baru saya lewati bersama keluarga di rumah kakek yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah saya. Kami memang satu RT, hanya beda jalan saja. Tidak banyak yang kami lakukan selain ngobrol bertukar cerita. Tujuannya pun memang hanya kumpul meramaikan rumah, kebetulan kakek baru pulang dari rumah sakit.

Mudah diduga, pembicaraan tidak akan jauh dari seputar gempa dan tsunami yang baru saja terjadi. Kami yang sehari-hari berbaur dengan komunitas yang berbeda dan di tempat yang berbeda, tentunya membawa cerita yang berbeda-beda pula. Tapi tentu saja cerita yang paling lengkap berasal dari seorang netter =)

Tepat jam 00.00 WIB, saya sengaja menengok televisi, sekedar ingin melihat apa yang ditayangkan oleh stasiun-stasiun televisi. Tapi saya tidak bertahan lama di depan televisi, 10 menit sudah cukup membuat saya muak. Benar-benar muak.

Di satu stasiun, tepat jam 00.00 WIB pembawa acara membimbing para penonton (yang membawa lilin) untuk mengheningkan cipta untuk korban-korban gempa dan tsunami. Dan tak lama setelah itu, musik dangdut kembali menghipnotis seluruh penonton untuk bergoyang dan seolah terlupa pada apa yang sedang terjadi di lokasi bencana.

Di stasiun lainnya kurang lebih sama, hanya saja tepat jam 00.00 WIB, 5 pemuka agama memanjatkan do’a secara bergantian. Dan tak lama setelah itu, kembali unsur hiburan yang lebih menonjol.

Bersimpati memang tidak harus selalu tampak turut bersedih. Tapi simpati yang tidak sepenuh hati benar-benar memuakkan. Kalau memang tidak akan menggubris himbauan untuk tidak berhura-hura pada perayaan tahun baru, ya sudah lah, tidak perlu juga berpura-pura menunjukan simpati, toh semuanya sangat jelas terlihat seperti dibuat-buat. Dan kalaupun acara itu dimaksudkan untuk menggalang dana untuk disumbangkan, bukankah dengan hanya mendirikan posko penerimaan sumbangan saja sudah cukup?

Hiburan adalah kebutuhan naluriah, dan simpati hanya datang dari nurani. Ketika keduanya berbenturan, di dalam hati kita mungkin terjadi gempa dan tsunami kecil yang (mungkin juga) menyapu akal sehat kita. Saya sendiri terlalu sibuk bergulat dengan wacana tanpa bisa lebih banyak melakukan aksi.