Daily Archive for January 1st, 2005

Tahun Baru dan Simpati Palsu

Malam tahun baru saya lewati bersama keluarga di rumah kakek yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah saya. Kami memang satu RT, hanya beda jalan saja. Tidak banyak yang kami lakukan selain ngobrol bertukar cerita. Tujuannya pun memang hanya kumpul meramaikan rumah, kebetulan kakek baru pulang dari rumah sakit.

Mudah diduga, pembicaraan tidak akan jauh dari seputar gempa dan tsunami yang baru saja terjadi. Kami yang sehari-hari berbaur dengan komunitas yang berbeda dan di tempat yang berbeda, tentunya membawa cerita yang berbeda-beda pula. Tapi tentu saja cerita yang paling lengkap berasal dari seorang netter =)

Tepat jam 00.00 WIB, saya sengaja menengok televisi, sekedar ingin melihat apa yang ditayangkan oleh stasiun-stasiun televisi. Tapi saya tidak bertahan lama di depan televisi, 10 menit sudah cukup membuat saya muak. Benar-benar muak.

Di satu stasiun, tepat jam 00.00 WIB pembawa acara membimbing para penonton (yang membawa lilin) untuk mengheningkan cipta untuk korban-korban gempa dan tsunami. Dan tak lama setelah itu, musik dangdut kembali menghipnotis seluruh penonton untuk bergoyang dan seolah terlupa pada apa yang sedang terjadi di lokasi bencana.

Di stasiun lainnya kurang lebih sama, hanya saja tepat jam 00.00 WIB, 5 pemuka agama memanjatkan do’a secara bergantian. Dan tak lama setelah itu, kembali unsur hiburan yang lebih menonjol.

Bersimpati memang tidak harus selalu tampak turut bersedih. Tapi simpati yang tidak sepenuh hati benar-benar memuakkan. Kalau memang tidak akan menggubris himbauan untuk tidak berhura-hura pada perayaan tahun baru, ya sudah lah, tidak perlu juga berpura-pura menunjukan simpati, toh semuanya sangat jelas terlihat seperti dibuat-buat. Dan kalaupun acara itu dimaksudkan untuk menggalang dana untuk disumbangkan, bukankah dengan hanya mendirikan posko penerimaan sumbangan saja sudah cukup?

Hiburan adalah kebutuhan naluriah, dan simpati hanya datang dari nurani. Ketika keduanya berbenturan, di dalam hati kita mungkin terjadi gempa dan tsunami kecil yang (mungkin juga) menyapu akal sehat kita. Saya sendiri terlalu sibuk bergulat dengan wacana tanpa bisa lebih banyak melakukan aksi.