Setelah menulis sedikit tentang Joan MirĂ³ kemarin, saya bertanya-tanya “Kapan Google akan memberikan atribusi bagi tokoh Indonesia?” Dan hari ini, saya bertanya lagi pada diri sendiri “Kenapa hari ini ga nulis tentang Kartini?” Alasannya, sudah banyak yang menulis tentang Kartini. Ngeles? Iya lah! :p Daripada sok tau nulis tentang Kartini, lebih baik saya menulis tentang keseharian istri saya.
Istri saya, seperti kebanyakan wanita Indonesia lainnya pada saat ini, adalah seorang pekerja. Beliau bekerja sebagai seorang asisten guru di SD Mutiara Bunda. Setiap pagi saya mengantarnya ke sekolah, dan menjemputnya kembali setiap sore. Selalu saja ada cerita tentang bagaimana tingkah laku murid-murid di kelasnya pada hari itu. Cerita tentang murid yang tergolong ABK, cerita tentang murid-murid yang sangat ceria setelah menikmati liburan, cerita tentang murid-murid yang selalu merindukan sekolah, cerita tentang murid-murid yang kesulitan menangkap materi pelajaran, cerita tentang murid-murid yang sangat ‘aktif’, cerita tentang murid-murid yang melontarkan pertanyaan yang membuat dahi berkerut, dan cerita-cerita lainnya selalu saya nikmati di perjalanan pulang saat menjemput, ketika makan malam, sebelum tidur, bahkaan di perjalanan saat mengantar ke sekolah keesokan paginya. Dari apa yang saya lihat dan dengar, istri saya sangat peduli pada murid-muridnya. Sekalipun hanya asisten guru, istri saya rela membaca buku tebal berjudul “Sinopsis Psikiatri” yang biasa dibaca oleh mahasiswa kedokteran, hanya untuk memahami kondisi murid-muridnya. Seringkali istri saya tidur lebih larut untuk mempersiapkan materi permainan, agar murid-muridnya lebih senang belajar matematika. Dan banyak lagi yang istri saya lakukan dengan senang hati untuk kepentingan murid-muridnya. Istri saya adalah Kartini bagi saya.
Sibuk dengan murid-muridnya tidak membuat istri saya melupakan tugasnya di rumah. Setiap pagi, istri saya masih sempat menyiapkan sarapan untuk kami berdua. Tidak hanya itu, istri saya juga selalu menyempatkan untuk menyapu teras dan menyiram tanaman, karena dia tahu saya malas melakukannya. Di akhir pekan, kami membereskan rumah dan isinya bersama-sama. Saya mencuci pakaian kotor dan mencuci motor, sedangkan istri saya membersihkan rumah dan perabotan lalu menyetrika pakaian yang sudah kering dan tentu saja memasak. Saya selalu merasa bahwa saya adalah seorang suami yang beruntung.
Memasak sebetulnya bukanlah keahlian istri saya. Kadang terlalu asin, kadang tidak berasa, tapi saya selalu menghabiskannya. Di masakan istri saya, ada rasa yang tidak saya temukan di makanan lain, rasa cinta. Istri saya selalu memasak dengan penuh kasih sayang, sekalipun kadang masih harus melihat resep dari koran. Seringkali saya kelaparan duluan sebelum makanan masak, tapi istri saya kemudian tersenyum dan menghampiri saya, memberikan sebuah kecupan dan berkata “sabar ya sayang”, dan lapar pun hilang.
Istri saya bukanlah wanita tercantik dan terseksi di dunia. Tapi istri saya sudah lebih dari wanita yang dulu saya cari-cari.
hi homok
gw pertama neh
makan makan
Wekks! Masih dendam aja lu! :))
sampaikan salam salut saya pada istri…salam kebersamaan!
wah wah..pasti istrinya reno juga menjadikan reno sebagai kartononya..sabar nungguin istrinya masak hihihi…
salam kenal atuh ya buat kartininya…
kasih tips buat ngedidik anak dari kecil?kali2 sharing ttg tulisan istri atuh